Sekolah Uma untuk Anak-anak Gorottai

20-03-2016 02:28 WIB | Remaja | Editor: ocha
Sekolah Uma untuk Anak-anak Gorottai

Dua orang siswa/i sekolah Uma berlari menuju kelas saat lonceng berbunyi (Foto: Ocha Mariadi)

GOROTTAI - Tak tersentuh pendidikan selama hampir tiga tahun, masyarakat Gorottai, Desa Malancan, Kecamatan Siberut Utara, Mentawai gembira ketika Yayasan Citra Mandiri Mentawai (YCMM) membuka Sekolah Uma Gorottai, beberapa waktu lalu.

Meski jumlah muridnya hanya lima orang, sudah cukup bagi YCMM membuka sekolah kecil sesuai Peraturan Menteri Pendidikan Nasional No. 72 tahun 2012 tentang Pendidikan Layanan Khusus.

Tiga tahun lalu, Yayasan Prayoga menutup sekolah dasar di sana karena jumlah muridnya sedikit, sekira 9 orang. Sejak itu, anak-anak di Gorottai terpaksa disekolahkan ke dusun terdekat, di Terekan Hulu yang bisa ditempuh dengan pompong 30 menit atau berjalan kaki sekira 1,5 jam melalui hutan di Sirilanggai atau Malancan, dusun yang bisa ditempuh dari Terekan dengan berjalan kaki lebih lama.

"Kami sulit sebenarnya menyekolahkan anak-anak di dusun lain karena jauh. Pilihannya, anak dititipkan ke saudara tapi kasihan karena usia mereka masih kecil, pilihan lain terpaksa pindah, tapi kalau pindah, bagaimana dengan ladang kami," kata Jeremias, salah satu pemuka masyarakat Gorottai kepada mentawaikita.com saat peresmian Sekolah Uma Gorottai, beberapa waktu lalu.

Akibat ketiadaan sekolah, jumlah penduduk kampung itu semakin sedikit, kini tinggal 11 kepala keluarga atau sekira 60 jiwa.Tidak adanya layanan pendidikan membuat mereka harus memilih apakah harus meninggalkan ladang dan tanah yang subur untuk menyekolahkan anak-anak atau bertahan namun anak terpaksa tidak sekolah atau dititipkan kepada saudara.

Kerinduan akan pendidikan ini membuat Jeremias dan Tarianus, mantan kepala dusun Gorottai menemui Kepala UPTD Pendidikan Siberut Utara, Jop Sirirui untuk menyampaikan kondisi pendidikan di kampungnya tak lama setelah sekolah milik Yayasan Prayoga tutup. Namun jumlah murid yang tidak sampai 15 orang menyulitkan pemerintah membuka sekolah di sana. Jop waktu itu menyarankan agar masyarakat menyekolahkan anaknya ke Terekan atau Sirilanggai.

Menurut Jop, meski saat itu tidak bisa menemukan solusi membantu warga Gorottai, ia tetap menyimpan kegelisahan untuk segera mencari jalan keluar. "Pendidikan itu hak semua warga negara, makanya saya terus berpikir dan berupaya memperjuangkan pendidikan di Gorottai," kata Jop saat peresmian sekolah di waktu bersamaan.

Pada Juni 2015, Jop bertemu Koordinator Divisi Pendidikan dan Budaya YCMM, Tarida Hernawati dan menyampaikan kondisi pendidikan Gorottai. Gayung bersambut, YCMM memang akan membuka sekolah baru setelah tiga sekolah sebelumnya di Bekkeiluk, Magosi dan Tinambu sudah menjadi filial sekolah negeri. Ketiga sekolah berada di Siberut Selatan.

Kunjungan dilakukan YCMM bersama UPTD Pendidikan Siberut Utara, 23 Juni yang dilanjutkan kunjungan kedua, 12 Juli lalu.Masyarakat Gorottai menyambut gembira sekolah tersebut.

"Kami sangat berterimakasih kepada YCMM dan UPTD Pendidikan, ini seolah-olah keinginan kami yang terjawab," kata Jeremias saat menyambut tim datang.

Untuk proses belajar mengajar, masyarakat menyediakan bangunan sekolah yang merupakan bangunan milik Yayasan Prayoga lama. Ada sedikit kerusakan pada atap dan lantai. "Karena itu sementara proses belajar di gereja dulu," kata Jeremias.

Masyarakat juga menyediakan satu unit rumah untuk guru sekolah, Juniardi Sakelak Asak. Pak guru, yang akrab disapa Ardi merupakan warga Sikabaluan, tinggal di Malancan. Pernah kuliah di akademi kesehatan dan menjadi mantari, Ardi kemudian tertarik menjadi guru karena ingin memajukan pendidikan di Gorottai.

Sekolah baru membuka dua lokal belajar, kelas 1 ada tiga murid yaitu Klara, Wance dan Parjo sedang kelas 2 ada dua murid, Ratna yang sebelumnya sekolah di SDN 01 Sirilanggai sementara Anto di SD negeri Malancan.

Ratna kakak Klara, saat kelas 1 dia dititip ke kerabatnya. Menurut Lukas Sirisurak, bapak Ratna dan Klara, dirinya senang saat tahu ada sekolah lagi di Gorottai dan langsung mengurus kepindahan sekolah Ratna.

"Saya senang ada sekolah, sebelumnya saya sering khawatir karena jauh dari Ratna, bagaimana jika dia sakit sementara kami jauh di Gorottai," katanya.

Hari pertama sekolah disambut gembira lima murid sekolah uma. Sekira pukul 08.00 WIB lewat sedikit, sekolah dimulai dengan terlebih dulu peresmian oleh YCMM yang diwakili Tarida.

Rombongan Camat Siberut Utara Agustinus Sabebegen bersama UPTD Pendidikan, Kepala Desa Malancan Barnabas Saerejen dan Direktur YCMM Roberta Sarogdok yang diharapkan meresmikan sekolah baru datang siang hari karena harus mengunjungi sekolah-sekolah di Sirilanggai dan Terekan.

Anak-anak antusias mengikuti pelajaran. Hari pertama dilalui dengan perkenalan murid dan guru dilanjutkan belajar pengenalan huruf untuk murid kelas 1 dan belajar menulis huruf dan angka untuk murid kelas 2. Usai istirahat siang, Pak Guru Ardi mengajak anak-anak menyanyi, dari lagu Indonesia Raya hingga lagu berbahasa Mentawai.

"Kita baru bisa membuka kelas 1 dan kelas 2 karena keterbatasan guru dan ruangan, ke depan seiring waktu dan perkembangan jumlah murid maka jumlah kelas akan bertambah," kata Tarida.

Sementara Kepala UPTD Pendidikan Siberut Utara, Jop Sirirui mengapresiasi sekolah uma yang akhirnya bisa dibuka. Ia berpesan agar masyarakat menjaga dan ikut mengawasi keberlangsungan sekolah.

"Kita pemerintah memang memiliki aturan untuk membangun sekolah, harus ada minimal 15 murid baru bisa kita buka dan alokasikan dana BOS. Namun syukurlah akhirnya YCMM bisa membuka sekolah di sini," katanya.

Agustinus juga gembira dengan adanya sekolah di Gorottai karena anak-anak bisa mendapat pelayanan pendidikan. "Dengan pendidikan maka kita akan maju, anak-anak Gorottai ini pintar-pintar, saya dulu guru di Sirilanggai, anak-anak Gorottai ini sering juara," kata Agustinus.

(Ocha Mariadi)

  • Pin it
Komentar