Sikerei Masih Jadi Andalan Pengobatan di Mentawai

11-10-2017 22:28 WIB | Peristiwa | Reporter: Tim Redaksi | Editor: Zulfikar Efendi
Sikerei Masih Jadi Andalan Pengobatan di Mentawai

Dua orang Sikerei (dukun/tabib) mengobati pasiennya di Dusun Tinambu, Desa Saliguma, Kecamatan Siberut Tengah, Kabupaten Kepulauan Mentawai (Foto: Ocha)

Sebagai daerah administratif yang relatif baru, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, masih terbatas dalam sarana dan layanan kesehatan. Jarak ke puskesmas atau rumah sakit cukup jauh dan ini membuat biaya berobat jadi mahal. Minimnya sarana kesehatan inilah yang menjadikan sikerei (tabib/dukun tradisional) masih menjadi andalan bagi sebagian warga yang tinggal di daerah kepulauan Mentawai ini.

Bagi orang Mentawai yang tumbuh besar di kampung, sikerei adalah pilihan favorit --kalau bukan yang pertama-- untuk pengobatan. Salah satu contohnya adalah Roberta Sarogdok. Warga Dusun Rogdok, Desa Madobak, Kecamatan Siberut Selatan, ini sudah 20 tahun merantau ke Padang. Bila pulang kampung, dan menderita sakit agak keras, ia memilih datang ke sikerei.

Roberta menceritakan pengalaman Si Bapak (sebutan orang tua laki-laki), sekitar tahun 1997, yang tiba-tiba muntah darah, dan pingsan. "Dikasih obat dari Puskesmas, selama dua hari tidak ada pengaruh. Melihat situasi itu, anggota suku berembuk, apakah memilih berobat keluar (MuaraSiberut) atau coba ke sikerei," kata dia.

111

Alhasil mereka bermufakat bahwa Si Bapak yang bernama Malaikat, coba berobat ke sikerei. Lalu empat orang sikerei di sekitar Madobak dipanggil ke rumah. Dan mereka langsung melakukan ritual pengobatan. "Dipanggil roh dengan turuk (tarian). Karena ini sudah dianggap sakit keras, dan butuh pertolongan dari roh," kata Roberta.

Roberta, meski berasal dari pedalaman Mentawai, persisnya di pinggir Sungai Rereiket, kehidupannya sudah sama seperti orang 'Tanah Tepi'. Ia tinggal di Padang selama 20 tahun terakhir dan hidup ala orang Minang kebanyakan. Namun untuk urusan sakit, ia selalu mengandalkan pengobatan tradisional. Bila Roberta atau keluarganya sakit, dan tidak sembuh setelah berobat ke rumah sakit, pasti bertanya kepada orang tua yang masih tinggal di Rogdok. Itulah yang ia lakukan saat salah satu anaknya sakit demam. Kata dokter, itu gejala demam yang lazim di masa pertumbuhan.

Setelah diberi obat demam, anaknya masih menggigil dan malah ketakutan melihat dia, dan menangis. Roberta lantas menelpon si Mamak (orang tua perempuan). Dia disarankan mencari tanaman-tanaman di jalan. "Itu dianggap tasapo (penyakit sumber dari magis), dan si mamak mengajarkan mantra ke saya. Dan ketika saya mengambil daun-daun itu, saya bacakan mantra," tukasnya lagi.

Sikerei sudah menjadi rujukan untuk mengobati penyakit jauh sebelum pengobatan modern masuk ke Mentawai. Sebagian besar warga memilih pergi ke Sikerei karena memang tidak ada pilihan lain. Bahkan hingga sekarang masyarakat pedalaman di Pulau Siberut masih berobat kepada sikerei, selain ke poliklinik desa atau puskesmas.

Salah satu resep jitu pengobatan sikerei adalah pada ramuannya yang bisa dipakai untuk mengobati aneka penyakit. Mereka rata-rata punya kepandaian meramu tumbuhan obat, yang bisa dipakai untuk mengatasi sejumlah penyakit. Obat tradisional itu bisa menyembuhkan mulai dari sakit kepala, flu, penyakit akibat dipatuk ular, luka bacokan, penyakit kulit, sakit perut dan menghentikan pendarahan ibu melahirkan.

Lempen Tubu, 55 tahun, seorang sikerei di Siberut Utara mengatakan, menjadi sikerei memiliki tanggungjawab yang besar. "Kalau kita tidak layani, maka kita akan dihukum oleh leluhur. Kadang babi kita mati tiba-tiba, atau kita sakit-sakit. Tanggungjawab kita itu berat untuk menjadi sikerei," katanya. Jangan tanya soal upah. Mereka tak pernah mematok berapa harus dibayar alias seiklhasnya. "Kadang ada yang memberi upah, kadang juga tidak."

Markus Sabailati, 48 tahun, mantan Kepala Dusun di Salapak, Siberut Selatan, mengatakan, ia percaya pada pengobatan sikerei dan juga modern. "Karena ini berbeda. Pengobatan modern hanya bisa mengobati fisik. Sementara sikerei, selain fisik juga mengobati kalau terkena gangguan roh atau guna-guna. "Pengobatan oleh sikerei juga manjur. Tetapi kalau sakitnya makin parah, warga akan pergi ke Puskesmas di Muara Siberut, " kata Markus. Ia menambahkan, masih banyak warga yang tergantung pada pengobatan sikerei karena petugas kesehatan tidak selalu ada di Salappak.

as

Pusat Studi Tumbuhan Obat Universitas Andalas mencatat 209 jenis tumbuhan yang dipakai sebagai obat-obatan tradisional oleh sikerei di Dusun Rokdok, Siberut Selatan. "Biasanya sikerei mengobat dengan bantuan ritual magis. Tentu kami tidak akan menggunakan itu. Kami akan fokus pada tumbuhan yang digunakan mereka," kata Kepala Pusat Studi Tumbuhan Obat Universitas Andalas, Amri Bachtiar.

Dari penelitian Pusat Studi Tumbuhan Obat pada 2000 di Dusun Rokdok, Siberut Selatan, didapati 154 jenis tumbuhan. Sebanyak 85 persen atau 176 koleksi obat itu diketahui memiliki khasiat obat dan hanya 33 koleksi atau 15 persen yang tak diketahui khasiat dan penggunaannya.

Pusat Studi Tumbuhan Obat kemudian meneliti kembali pada 2012 di empat titik di Sumatra Barat, dua titik di antaranya di Pulau Siberut. Penelitian ini berhasil mengumpulkan 151 jenis tumbuhan obat. Hasil penelitian ini membuat Amri Bakhtiar diberi penghargaan sebagai peneliti terbaik Tanaman Obat dan Jamur (Ristoja) pada 6 November 2014 oleh Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional.

Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai juga akan menggunakan tanaman obat tradisional yang biasa digunakan sikerei untuk mendampingi obat modern di puskesmas. Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Kepulauan Mentawai, Lahmuddin Siregar mengatakan, pemanfaatan tanaman obat tradisional tersebut tetap melalui proses ilmiah di bawah bimbingan Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat dan Obat Tradisional, Tawangmangu, Jawa Tengah dan ahli tanaman obat dari Universitas Andalas. "Kami sudah mengirim seorang dokter dan ahli farmasi untuk pelatihan saintifikasi jamu ke Tawangmangu. Saat ini kami sedang mempersiapkan sebuah puskesmas di daerah Sarereiket di Siberut Selatan untuk puskesmas yang juga menggunakan klinik herbal, tapi pembangunan itu belum dimulai," kata Lamhuddin, 8 September 2017.

Lamhuddin mengatakan bangunan puskesmas itu akan berbentuk Uma, rumah adat Mentawai. Jamu serta ramuan obat Sikerei yang berkhasiat akan bisa didapatkan di sana. Kata Lahmuddin, Mentawai memiliki kekayaan pengetahuan obat tradisional karena sikerei. Selain bisa mengobati, dikerei juga bisa menenangkan pasien secara kejiwaan. "Itu tidak berarti kita percaya sepenuhnya pada pengobatan Sikerei, tetapi yang positifnya kita ambil," katanya.

Tim Redaksi (Zulfikar/Ocha/Yanti/Yose/Heri)

  • Pin it
Komentar