Bajak Letcu Temukan 10 Motif Gelang Khas Budaya Mentawai

06-10-2017 07:50 WIB | Peristiwa | Reporter: Rus Akbar | Editor: ocha
Bajak Letcu Temukan 10 Motif Gelang Khas Budaya Mentawai

Bajak Letcu memperlihatkan gelang letcu hasil karyanya yaang bermotif khas alat budaya Mentawai. (Foto: Rus Akbar)

MAPADDEGAT-Viktor Simanri Sakombatu (31) yang dikenal dengan Bajak Letcu, warga Pokai Kecamatan Siberut Utara menemukan 10 motif gelang yang berbahan osap (pakis) dan bebeget (rotan) khas Mentawai. Gelang tersebut dipajang dan dibuat langsung dalam Festival Pesona Mentawai 2017.

Proses pencarian 10 motif itu bermula dari rasa penasaran dengan alat-alat budaya Mentawai seperti gajeumak, tato dan uma Mentawai, akhirnya dia mencoba-coba untuk membuatnya. motif umum yaitu itu motif zigzag seperti motif sabok yang dipakai sikerei, motif kulit saba (piton) yang dipakai dengan gajeumak, gendang tarian Mentawai, motif zigzag berupa motif punggung kulit piton, motif tunung berupa mata panah segitiga.

Selain itu, juga ada motif tato Mentawai, motif kulit batek (biawak) yang dipakai untuk gajeumak, motif sabbau berupa bagian atap uma, motif hitam putih uma, kemudian motif luat atau ikat kepala yang dipakai oleh sasaibi dan motif tumung berlawanan.

"Ide ini keluar waktu saya ditanya apakah ada motif lain, kemudian saya buat satu-satu, awalnya salah-salah tapi akhirnya dari kesalahan itulah terbentuklah motif tersebut," katanya pada Mentawaikita.com, Kamis (5/10/2017).

Biasanya Bajak Letcu ini mengambil isi pakis ini kemudian direndam di rawa-rawa selama 1 sampai 2 hari, berikutnya dijemur sampai kering. "Ini agar kuat dan lebih bagus warnanya," katanya.

Kalau rotan diambil di hutan, dibelah lalu dikeringkan, kemudian diraut kembali hingga halus, saat mau memakainya itu dibasahkan terlebih dahulu biar lentur. "Harga gelang satu lingkaran ukuran besar itu senilai Rp50 ribu, kalau lebih halus itu harganya Rp35 ribu, padahal yang ukuran kecil itu lebih sulit tapi pembeli mengeluhkan harganya lebih mahal makanya kita turunkan harganya," ujarnya.

Bajak Letcu belajar membuat letcu dari pamannya pada 2003, dan sudah mulai menjual dan membuat usaha tersebut sejak 2009 namun motifnya masih umum, baru pada tahun 2016 dia memodifikasi motif tersebut. "Selama festival ini dalam satu hari bisa membuat letcu tujuh buah dan itu tidak maksimal, harga buat letcu di tangan senilai Rp50 ribu," terangnya.

Letcu ini juga sering dibeli turis dari Spanyol, Prancis, Brazil yang datang surfing ke Mentawai, selain itu sering dikirim ke Jakarta, Padang Jogjakarta, Medan, Malang dan Surabaya.

  • Pin it
Komentar