Begini cara Mengolah Sagu Cara Tradisional Mentawai

05-10-2017 16:07 WIB | Budaya Mentawai | Reporter: Rus Akbar | Editor: ocha
Begini cara Mengolah Sagu Cara Tradisional Mentawai

cara mengolah sagu tradisional Mentawai. (Foto: Rus Akbar)

TUAPEIJAT-Sagu merupakan pangan lokal masyarakat Mentawai terutama yang bermukim di Pulau Siberut. Makan rasanya tidak enak tanpa dilengkapi sagu. Jika dulu sagu diolah dengan cara tradisional, kini sudah banyak yang meninggalkannya dan memilih cara lebih praktis menggunakan mesin.

Bagaimana mengolah sagu dengan cara tradisional? Pada Festival Pesona Mentawai 2017, pengolahan sagu tradisional ditampilkan kepada pengunjung sebagai bagian dari aktivitas budaya Mentawai.

Pengolahan sagu diawali dengan menebang batang sagu di sekitar lokasi Festival Pesona Mentawai di Mapaddegat, menggunakan kapak ukuran besar, kemudian memotong batang sagu beberapa meter, setelah terpotong diteruskan dengan mengupas kulit sagu.

Mengupas kulit sagu dimulai dengan kapak dan dilanjutkan dengan ookdak atau kayu ukuran beras sepanjang 3 meter. Kulit sagu yang telah dikupas digunakan alas dari sagu yang sudah diparut. Setelah terkupas, dilanjutkan dengan memarut batang hingga halus menggunakan gergaji berukuran 1, 5 meter yang bagian tengahnya diberi paku.

Memarut sagu dilakukan dua orang, masing-masing di sisi berlawanan saling menarik gergaji hingga sagu menjadi halus. Jika masih ada isi sagu menempel di batangnya maka akan dicangkul dengan alat rurukku berupa batang ruyung yang dibuat seperti huruf v. kalau sudah selesai dilanjutkan dengan mencincang memakai teile (parang) agar lebih halus.

Setelah isi sagu yang sudah halus dimasukkan ke dalam bulukbuk, sejenis keranjang yang terbuat dari pelepah sagu yang dikeringkan kemudian dijalin dengan rotan, agar lebih kuat bagian sambungannya diberikan tulang rotan.

Jika sudah penuh maka isi sagu tersebut dibawa ke dereat (tempat mengolah tepung sagu dengan cara diinjak). Di sini tempat memisahkan sari pati sagu dengan ampasnya. Dereat ini bagi masyarakat Mentawai khususnya di Siberut memiliki beberapa unsur. Kotak papan dengan ukuran, lebar dua meter dan panjang tiga meter. "Kalau dulu papan ini dilappa (dipipih) hingga membentuk papan, kalau sekarang bisa dengan mesin gergaji," kata Fransiskus Sabulat (43), warga Muntei yang pernah mengolah sagu.

Kemudian di lantainya itu diberi karuk (serabut kelapa) yang sekarang banyak diganti dengan kain, fungsinya untuk penyaring, lapisan kedua adalah salasak, ini terbuat dari bambu yang sudah dipilah-pilah, lantai ketiga adalah Bat Simagappla, ini lantai dari bambu juga dengan posisi menyilang, lantai keempat adalah Bat Simuenak, ini juga terbuat dari bambu posisinya juga menyilang dengan lapisan ketiga. "Fungsinya ini sebagai penyaring agar ampas sagu tidak ikut hanyut dengan sari pati sagu. Agar tidak terpisah bambu-bambu yang sudah dipilih itu diikat dengan rotan yang sudah dihaluskan," katanya.

Untuk penahan agar tidak ambles diberikan bujuk sebanyak tiga bambu besar yang diikat dengan tonggak yang sudah tertancap di dasar air. Di bawah dereat itu ada atap sagu sebagai penampung tepung sagu yang masih bercampur air untuk dialirkan ke boroijat (pancuran) yang terbuat dari sampan yang sudah lapuk, nanti sari pancuran itu akan dialirkan ke dalam sampan yang disediakan untuk menampung, tapi sebelum dialirkan ke dalam sampan dari pancuran tersebut terlebih dahulu diberikan saringan. "Ini untuk penyaringan yang terakhir," kata Frans.

Sementara penimba air dari bawah dereat dinamakan tatappuw, berbentuk kerucut bahannya dari pelepah sagu yang sudah dikupas, kemudian dikasih karaktak (tulang) dari rotan bulat yang dijalin menjadi dengan rotan yang dihaluskan kemudian diikat sisi kanan dan kiri dengan rotan sementara tangkainya dari bambu sepanjang tiga sampai empat meter. "Ukuran tangkainya ini tergantung ukuran tubuh kita dan ke dalam air," ujarnya.

Satu tual batang sagu bisa dikelola setengah hari tergantung keuletan pengolahnya. Kalau tepung dengan air sagu sudah terpisah berikutnya membuang air dari dalam penampungan, kemudian tepung sagu dimasukkan ke dalam tappri yang terbuat dari daun sagu yang sudah dijalin dengan rotan halus berbentuk balok dan di tengahnya kosong. Disitulah diletakkan tepung sagu, bagian ujungnya dilapisi dengan sejenis tanaman paku kemudian diikat dengan rotan juga agar tidak keluar.

  • Pin it
Komentar