Tak Ada Kursi dan Meja, Murid SDN 21 Madobak Belajar di Lantai

03-10-2017 21:58 WIB | Pendidikan | Reporter: Hendrikus Samonganuot | Editor: Gerson Merari
Tak Ada Kursi dan Meja, Murid SDN 21 Madobak Belajar di Lantai

Murid SDN 21 Madobak belajar dengan tiarap di lantai karena meja dan kursi belum ada. (Foto : Hendrikus)

UGAI-Murid SDN 21 Madobak, Kecamatan Siberut Selatan, Kabupaten Kepulauan Mentawai yang berlokasi di Dusun Ugai terpaksa belajar sambil tiarap di lantai karena meja dan kursi sekolah tidak ada. Memasuki Oktober ini, belajar dengan tiarap di lantai tersebut sudah terjadi selama enam bulan.

Yohannes Tasiriguruk, salah seorang guru SDN 21 Madobak mengatakan, ada dua kelas yang belum memiliki mebeler yakni kelas I dan III.

"Yang belum mempunyai mebeler yakni kelas satu dan kelas tiga mereka belajar di lantai keramik," kata Yohannes kepada MentawaiKita.com, Selasa (3/10/2017).

Meski tanpa kursi dan meja, proses belajar mengajar di sekolah tersebut tetap berjalan. Guru tetap menjelaskan pelajaran menggunakan white board yang membuat siswa kesulitan untuk melihat ke depan papan tulis dan meyebabkan leher siswa sakit kalau menulis lama.

Yohannes menyebutkan, muris tidak nyaman belajar dengan kondisi tiarap di lantai yang dingin. Murid tersebut kesulitan menulis dan baju seragam mereka jug aikit kotor.

"Karena siswa tidak nyaman belajar terkadang para siswa keluar ruangan dan lebih memilih untuk bermain main di luar," ujarnya.

Sementara kelas II, IV, V dan VI telah memiliki kursi namun jumlahnya belum lengkap karena mebeler tersebut masih bekas sekolah lama ketika sekolah tersebut masih di kelola Santa Maria sebelum diambil alih pemerintah.

Kepala SDN 21 Madobak, Kerenius Sauddeinuk mengatakan, murid belajar di lantai sudah terjadi selama enam bulan.

"Ada dua lokal mebelernya tidak ada dan ini sudah 6 bulan para siswa belajar di lantai," katanya

Menurut Kirenius, pengusulan penyediaan mebeler untuk murid sebanyak 211 orang sudah sering disampaikan terhitung sejak 2015 melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Mentawai kemudian dilanjutkan melalui musrenbang tetapi tidak ada tanggapan*

  • Pin it
Komentar